Sabtu, 21 Januari 2017

Jelajah Kota Semarang DARI KUIL SAM POO KONG SAMPAI MASJID AGUNG


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih dari kota Kudus. Akhirnya, kami tiba juga di Kampus Universitas Muhamadiyah Semarang (UNIMUS). Kedatangan kami ke sana untuk mengikuti Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang ke-23. LPM Paradigma yang tergabung dalam PPMI Dewan Kota Muria berkesempatan mengikuti acara tersebut, yang bertema “Pers Mahasiswa Bangkit dan Melawan Penindasan”.
Selama tiga hari penuh mulai tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2016  kami dihadapkan pada rutinitas acara yang sangat luar biasa, dan tentunya menambah pengalaman serta kawan yang tak terkirakan.
Dies natalis PPMI ke-23 berlangsung selama tiga hari. Dengan acara kelas jurnalistik mulai dari materi pengelolaan media online, advokasi hingga investigasi. Setelah penat dengan berbagai kegiatan sebelumnya, panitia mengajak peserta untuk berwisata bersama pada Minggu (01/2), sebagai acara penutupnya. Berikut catatan kami selama berkeliling kota Semarang.

Mengenal Kuil Sam Poo Kong
Tujuan pertama kami adalah kuil Sam Poo Kong. Sesudah semua peserta  naik ke bus DAMRI (Djawatan Angkoetan Repoeblik Indonesia), pukul 09.30 WIB roda bus mulai bergerak menuju tempat wisata yang berada di barat daya kota Semarang ini.
Berdirinya klenteng Sam Poo Kong tak terlepas dari cerita yang berkembang di masyarakat setempat. Laksamana Cheng Ho, merupakan tokoh legendaris di kalangan warga keturunan Cina, di mana ia diceritakan bisa menjelajahi hampir separuh belahan bumi dengan naik kapal. Jelajah Cheng Ho, begitu sebagian orang menyebutnya, semula berangkat dari daratan Cina menuju Asia Tenggara. Menurut cerita, pada abad ke-15 ia singgah di semenanjung utara pulau Jawa.
Jika ingin merasakan keramaian khas klenteng di sini, datanglah pada bulan Agustus. Biasanya selalu diadakan festival mengenang datangnya Cheng Ho ke Semarang. Sayangnya, kami tidak hadir pada bulan tersebut.
Warisan Belanda
Setelah dari Kuil Sam Poo Kong, kami melanjutkan perjalanan ke Lawang Sewu. Bangunan yang terkenal angker ini, letaknya tak jauh dari wisata pertama. Berhubung lalu lintas Kota Semarang sedikit macet, terpaksa bus kami mengambil jalan alternatif.
Dari kejauhan kegagahan bangunan yang dibuat pada 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan Juli tahun 1907 ini sudah nampak jelas. Tepat pukul 11.15 WIB kami pun sampai di Lawang Sewu, tepat bersamaan dengan pengambilan gambar sebuah acara stasiun TV swasta nasional.
Perasaan senang dibalut penasaran dapat mengunjungi Lawang Sewu. Sekitar 10 menit kami menunggu di halaman wisata yang penuh dengan rumput hijau segar. Kami dari Dewan Kota Muria bermusyawarah dan memutuskan untuk tidak ikut masuk dan hanya berjalan-jalan di sekitar halaman. Di samping bangunan ini terdapat sebuah papan persegi panjang yang menerangkan sejarah Lawang Sewu.
Disitu tertulis kata Lawang Sewu sendiri berasal dari julukan (paraban Jawa). Lawang yang berarti “pintu” sedangkan Sewu berarti “seribu”. Sebuah toponim untuk bangunan ini, karena memiliki pintu-pintu yang sangat banyak meskipun jumlahnya tidak sampai seribu, cukup dengan tiket Rp. 10.000,- saja kita dapat menjelajahi tempat ini.
Gedung ini tercatat pernah digunakan sebagai kantor oleh Nederlandsh-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Setelah sekitar 35 tahun digunakan tepatnya 1942-1945, gedung ini dipakai oleh Jepang dengan nama Riyuku Sokyuku (Jawatan Transportasi). Tahun 1945 berubah lagi menjadi kantor DKRI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).
Pesona Lawang Sewu tak pernah luntur walau sudah berusia ratusan tahun. Dengan konstruksi yang kokoh, namun nampak artistik. Siapapun yang melihatnya, pasti tertarik. Tidak jarang banyak pasangan yang memanfaatkan wisata ini untuk foto pre-wedding.
Setelah membaca sekilas, kami pun beristirahat di taman dengan rumput hijau terang. Beberapa saat kemudian, seorang penjaga gedung menghampiri kami dan menyuruh kami untuk keluar dari halaman gedung karena tidak membeli tiket masuk.
Terpaksa kami keluar sambil menunggu bus. Seperti kata orang, menunggu memang membosankan. Kami memutuskan menyeberang jalan dan ber-selfie ria di Tugu Muda.
Masjid Serba Unik
Puas dengan Tugu Muda, kali ini rombongan diajak ke Masjid Agung Jawa Tengah sekaligus istirahat makan siang dan menunaikan shalat dzuhur. Beberapa dari kami memasuki pelataran serambi masjid. Cuaca yang sangat panas membuat lantai serambi masjid terasa menyengat. Terlihat kain berwarna hijau membentang lurus menuju pintu masjid. Bagian atas teras masjid ini seperti masjid Nabawi yang memiliki payung elektronik. Payung ini bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.
Ditambah lagi dengan empat menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam yang lengkap. Satu lagi yang membuat masjid ini terkenal ialah menara al-Husna. Menara ini berdiri setinggi 99 meter  dan bagian dalamnya terdapat studio radio dengan frekuensi 107.9 FM atas nama Radio Dakwah Islam (DAIS).
Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum  di Romawi dihiasi kaligrafi-kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu“Sucining Guno Gapuraning Gusti“. (Wikipedia)
Terlihat di dalam masjid ada sebuah Mushaf Alquran dengan ukuran yang sangat besar. Disampingnya terdapat tulisan bahwa mushaf ini panjangnya 145 cm dan lebar 95 cm. Ditulis oleh dosen  Universitas Sains Alquran (UNSIQ) Wonosobo Drs. Hayat selama 2 tahun 3 bulan. Diterima oleh pengurus masjid agung pada tanggal 26 Oktober 2005.
Disebelah kanan mushaf, ada beduk berwarna hijau tua dan ditutupi dengan kain hijau. Beduk yang bernama Beduk Ijo Mangunsari ini dilapisi dengan tulisan kaligrafi berwarna putih. Panjang beduk 310 cm dengan garis tengah depan belakang 188 cm. Garis bagian tengah 220 cm dan keliling tengah 683 cm. Beduk yang dibuat pada 20 Sya’ban 1424 H ini adalah karya KH. Ahmad Shobri dari Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto, Banyumas. Ini menjelaskan bahwa beduk merupakan gaya khas masjid nusantara. Kurang lengkap rasanya bila ada masjid tidak ada beduk.
Selepas dari Masjid Agung Jawa Tengah. Kami pun kembali ke tempat peristirahatan dan bersiap pulang kembali ke kota Kudus.[]



0 komentar:

Posting Komentar