Setelah
menempuh perjalanan selama 3 jam lebih dari kota Kudus. Akhirnya, kami tiba juga
di Kampus Universitas Muhamadiyah Semarang (UNIMUS). Kedatangan kami ke sana untuk mengikuti Dies Natalis Perhimpunan Pers
Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang ke-23. LPM Paradigma yang tergabung dalam PPMI Dewan
Kota Muria berkesempatan mengikuti acara tersebut, yang bertema “Pers
Mahasiswa Bangkit dan Melawan Penindasan”.
Selama tiga
hari penuh mulai tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2016 kami dihadapkan pada rutinitas acara yang
sangat luar biasa, dan tentunya menambah pengalaman serta kawan yang tak
terkirakan.
Dies natalis PPMI ke-23 berlangsung selama tiga hari. Dengan acara kelas
jurnalistik mulai dari materi pengelolaan
media online, advokasi hingga investigasi. Setelah penat dengan berbagai kegiatan sebelumnya, panitia mengajak peserta untuk berwisata
bersama pada Minggu (01/2), sebagai acara penutupnya. Berikut catatan kami
selama berkeliling kota Semarang.
Mengenal Kuil Sam Poo Kong
Tujuan pertama
kami adalah kuil Sam Poo Kong. Sesudah semua peserta naik ke bus DAMRI (Djawatan
Angkoetan Repoeblik Indonesia), pukul 09.30 WIB roda bus mulai
bergerak menuju tempat wisata yang berada di barat daya kota Semarang ini.
Berdirinya
klenteng Sam Poo Kong tak terlepas dari cerita yang berkembang di masyarakat
setempat. Laksamana Cheng Ho, merupakan tokoh legendaris di kalangan warga
keturunan Cina, di mana ia diceritakan bisa menjelajahi hampir separuh belahan
bumi dengan naik kapal. Jelajah Cheng Ho, begitu sebagian orang menyebutnya,
semula berangkat dari daratan Cina menuju Asia Tenggara. Menurut cerita, pada abad ke-15 ia singgah di
semenanjung utara pulau Jawa.
Jika ingin merasakan keramaian khas klenteng di sini, datanglah pada
bulan Agustus. Biasanya selalu diadakan festival mengenang datangnya Cheng Ho ke Semarang. Sayangnya, kami tidak hadir pada bulan
tersebut.
Warisan Belanda
Setelah
dari Kuil Sam Poo
Kong, kami melanjutkan perjalanan ke Lawang Sewu. Bangunan yang terkenal angker ini,
letaknya tak jauh dari wisata pertama. Berhubung lalu lintas Kota Semarang
sedikit macet, terpaksa bus kami mengambil jalan alternatif.
Dari
kejauhan kegagahan bangunan yang
dibuat pada 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan Juli tahun 1907 ini sudah
nampak jelas. Tepat pukul 11.15 WIB kami pun sampai di Lawang Sewu, tepat bersamaan dengan pengambilan gambar
sebuah acara stasiun TV swasta nasional.
Perasaan
senang dibalut penasaran dapat
mengunjungi Lawang Sewu. Sekitar 10
menit kami menunggu di halaman wisata yang
penuh dengan rumput hijau segar. Kami dari Dewan Kota Muria bermusyawarah dan memutuskan untuk tidak ikut masuk dan hanya berjalan-jalan di sekitar halaman. Di samping bangunan ini terdapat sebuah papan persegi panjang yang menerangkan sejarah Lawang Sewu.
Disitu tertulis kata
Lawang Sewu sendiri berasal dari julukan (paraban Jawa). Lawang yang berarti “pintu”
sedangkan Sewu berarti “seribu”. Sebuah toponim untuk bangunan ini,
karena memiliki pintu-pintu yang sangat banyak meskipun jumlahnya tidak sampai
seribu, cukup dengan tiket Rp. 10.000,- saja kita dapat menjelajahi tempat ini.
Gedung
ini tercatat pernah digunakan sebagai kantor oleh Nederlandsh-Indische
Spoorweg Maatschappij (NIS). Setelah sekitar 35 tahun digunakan tepatnya
1942-1945, gedung ini dipakai oleh Jepang dengan nama Riyuku Sokyuku
(Jawatan Transportasi). Tahun 1945 berubah lagi menjadi kantor DKRI (Djawatan
Kereta Api Republik Indonesia).
Pesona
Lawang Sewu tak pernah luntur walau sudah berusia ratusan tahun. Dengan
konstruksi yang kokoh, namun nampak artistik. Siapapun yang melihatnya, pasti tertarik. Tidak jarang
banyak pasangan yang memanfaatkan wisata ini untuk foto pre-wedding.
Setelah membaca
sekilas, kami pun beristirahat di taman dengan rumput hijau terang. Beberapa
saat kemudian, seorang penjaga gedung menghampiri kami dan menyuruh kami untuk
keluar dari halaman gedung karena tidak membeli tiket masuk.
Terpaksa kami
keluar sambil menunggu bus. Seperti kata orang, menunggu memang membosankan. Kami memutuskan
menyeberang jalan dan
ber-selfie ria di Tugu Muda.
Masjid Serba Unik
Puas dengan Tugu Muda, kali ini
rombongan diajak ke Masjid Agung Jawa Tengah sekaligus istirahat makan siang
dan menunaikan shalat dzuhur. Beberapa dari kami memasuki pelataran serambi
masjid. Cuaca yang sangat panas membuat lantai serambi masjid terasa menyengat.
Terlihat kain berwarna hijau membentang lurus menuju pintu masjid. Bagian atas
teras masjid ini seperti masjid Nabawi yang memiliki payung elektronik. Payung
ini bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.
Ditambah lagi dengan empat menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya
sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam yang lengkap. Satu lagi yang
membuat masjid ini terkenal ialah menara al-Husna. Menara
ini berdiri setinggi 99 meter dan bagian
dalamnya terdapat studio radio dengan frekuensi 107.9 FM atas nama Radio Dakwah
Islam (DAIS).
Gaya Romawi terlihat dari bangunan
25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum di Romawi dihiasi kaligrafi-kaligrafi
yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu“Sucining Guno Gapuraning Gusti“. (Wikipedia)
Terlihat di dalam masjid ada sebuah
Mushaf Alquran dengan ukuran yang sangat besar. Disampingnya terdapat tulisan bahwa mushaf ini panjangnya 145 cm
dan lebar 95 cm. Ditulis oleh dosen
Universitas Sains Alquran (UNSIQ) Wonosobo Drs. Hayat selama 2 tahun 3
bulan. Diterima oleh pengurus masjid agung pada tanggal 26 Oktober 2005.
Disebelah kanan mushaf, ada beduk berwarna hijau tua dan ditutupi dengan kain hijau. Beduk yang bernama Beduk Ijo
Mangunsari ini dilapisi dengan tulisan kaligrafi berwarna putih. Panjang beduk 310 cm dengan garis
tengah depan belakang 188 cm. Garis bagian tengah 220 cm dan keliling tengah
683 cm. Beduk yang dibuat pada 20 Sya’ban 1424 H ini adalah karya KH. Ahmad Shobri dari Tinggarjaya,
Jatilawang, Purwokerto, Banyumas. Ini menjelaskan bahwa beduk merupakan
gaya khas masjid nusantara. Kurang lengkap rasanya
bila ada masjid tidak ada beduk.
Selepas dari Masjid Agung Jawa Tengah. Kami pun kembali ke tempat peristirahatan dan bersiap
pulang kembali ke kota Kudus.[]







0 komentar:
Posting Komentar