Tenda sudah terpasang, tamu mulai
berdatangan. Ada yang sibuk menata panggung dan
dekorasi pernikahan. Ada pula yang hanya duduk santai sambil jagongan (ngobrol). Esok nanti akan dilangsungkan
pernikahan Rania, warga Teluk dengan Rifa’i warga Sidigede. Dalam melangsungkan
pernikahan, warga
di wilayah tersebut biasa melangsungkan tradisi Prasah.
Tradisi dalam masyarakat Jawa
seakan tak ada habisnya. Setiap daerah
memiliki tradisi uniknya masing-masing. Tak
terkecuali warga Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara itu. Prasah
merupakan prosesi serah-terima lamaran kepada mempelai putri berupa Kerbau.
Warga setempat menyebutnya tradisi Prasah, karena
kata ini berasal dari bahasa Jawa pasrah.
“Prasah iku tembung diserahno,
disahno, utowo dipasrahno, kerono ilate wong Jowo, ben penak unine dadi tembung
prasah (prasah adalah kata diserahkan, disahkan, atau
dipasrahkan, karena supaya
mudah dilafalakan, katanya
berubah menjadi prasah),”
tutur Mbah Badi (80) salah satu sesepuh Desa Sidigede, saat ditemui reporter Paradigma,
Sabtu (22/9) di rumahnya.
Mbah
Badi menambahkan, pemberian
kerbau tak langsung diberikan begitu saja, namun dalam
prosesinya diarak
orang banyak dari tempat mempelai pria menuju rumah mempelai putri. Namun, jika
jarak rumah pengantin jauh, biasanya diangkut dengan kendaraan terlebih dahulu. Kemudian, ketika hampir sampai,
kerbau diturunkan lalu
diarak menuju rumah mempelai putri.
Tepat pukul 09.00 WIB,
Kerbau Prasah sudah disiapkan dan
diikat di sebatang
kayu besar sebagai patok (penahan). Menjelang keberangkatan, kerbau digiring
sekelompok orang yang memakai seragam khusus. Kelompok itu disebut Tukang Bracut. Tukang
Bracut ini biasanya terdiri dari 30-40
orang. Orang-orang
tersebut sudah biasa mengarak kerbau prasah di Sidigede.
Proses membracut menggunakan
tali dadung (tali tambang besar) yang diikatkan di kepala, leher dan
kaki. Hal itu
dilakukan agar mudah saat diarak.
“Nek mung wong
sitik seng bracut wonge ora kuat. Kebone iso ucul, masalahe kebone iku pilihan,
lanang tur gede
(jika hanya sedikit orang yang memegangi tidak akan kuat. Kerbaunya bisa lepas
karena kerbau prasah ini besar dan
jantan kualitas unggulan),” ungkap Busono (35) salah satu warga Sidigede.
Untuk mengarak kerbau juga harus dibracut,
yaitu dengan menggunakan tali dadung (tali tambang besar) yang
diikatkan di kepala, leher dan kaki. Hal
itu dilakukan agar mudah saat diarak. Kemudian kerbau diarak lewat jalanan dari
Desa Sidigede menuju Desa Teluk yang diikuti oleh warga setempat, sambil
menyalakan petasan dan bersorak-sorak sampai rumah pihak wanita, sebelum
akhirnya di-pasrah-kan.
Sebelum diarak, kerbau terlebih
dahulu dibacakan do’a-do’a. Hal ini bertujuan agar acara berjalan lancar. Sebab,
dalam pelaksanaan tradisi ini, kerbau bisa saja menjadi budhi. Budhi menurut warga Sidigede adalah
beringas seperti kuda lumping yang kerasukan.
Tak hanya itu, dalam mengarak kerbau
biasanya juga ada iringan barongan
dari Desa Banyuputih. Kemudian yang paling belakang, baru mempelai putra sambil
membawa lemari jati, jagoan (replika berbentuk ayam jago yang berkalung emas),
peralatan rumah tangga dan beberapa panganan. Sesampainya di tempat
mempelai putri, rombongan
disambut dengan alunan musik tanjidor.
Dilansir dari laman pgmickudus.blogspot.co.id, Sarmuji
menuturkan, filosofi tradisi ini menggambarkan sosok pria yang menunjukan
kejantananannya, setelah menaklukan kerbau beringas. Konon tradisi ini diilhami
dari kisah Jaka Tingkir yang mampu menaklukan kerbau beringas, yang kemudian
dapat menikahi putri kerajaan Demak. Hingga sekarang menjadi tradisi khas di Desa
Sidigede.
Namun
seiring berjalannya waktu dan mahalnya harga kerbau, tradisi ini tidak berlaku
untuk semua warga. Hanya yang mampu saja khususnya keturunan Mbah Simin yang melakukannya.
Mbah Simin sendiri konon terkenal sebagai petani kaya di Desa Sidigede.
Beberapa warga lain
bukan keturunan Mbah Simin
pun turut mengikuti tradisi ini, terutama mereka yang berkecukupan. Bukan tanpa alasan. Ini dikarenakan harga kerbau sekarang
mencapai 35 juta - 50 juta per ekor. Apalagi, kerbau yang digunakan Prasah dipilih dari jenis kerbau
unggulan, badannya besar, jantan, dan berpunuk.
Tradisi
Prasah
terbukti menarik perhatian masyarakat. Tak
hanya warga Sidigede, warga desa lain pun biasanya antusias melihat tradisi
tersebut. “Tradisi Prasah
adalah budaya kesenian yang harus selalu bisa dilestarikan,” kata Hakim (43), Kepala Desa
Sidigede. “Biasanya, keluarga yang dari luar kota jika ada tradisi ini semuanya
pulang untuk berkumpul, terutama dari keluarga keturunan Mbah Simin,”
pungkasnya.
Ngajeni
Sunoto (60), seorang petani yang
juga warga Sidigede mengatakan, Tradisi Prasah
ini sebagai ungkapan rasa bersyukur karena anak yang dirawat dari kecil hingga
dewasa telah diberi kesehatan, hingga sampai berumah tangga. Kemudian tujuan orang tua mencari nafkah
itu diberikan kepada keluarga,
khususnya anak. Akhirnya dari kedua belah
pihak pun sudah merasa cocok kemudian diejawentahkan dengan Prasah.
Selain itu, Prasah juga menyimpan makna rasa saling
peduli dengan sesama, “Ngajeni wong ben anakke sok diajeni wong,” imbuh Sunoto.
Ini digambarkan dengan pemberian kerbau yang besar dan terbaik, merupakan
cerminan dari menghargai orang lain dengan yang terbaik.







0 komentar:
Posting Komentar