Sabtu, 21 Januari 2017

PRASAH; Tradisi Seserahan di Sidegede, Welahan, Jepara


Tenda sudah terpasang, tamu mulai berdatangan. Ada yang sibuk menata panggung dan dekorasi pernikahan. Ada pula yang hanya duduk santai sambil jagongan (ngobrol). Esok nanti akan dilangsungkan pernikahan Rania, warga Teluk dengan Rifa’i warga Sidigede. Dalam melangsungkan pernikahan, warga di wilayah tersebut biasa melangsungkan tradisi Prasah
Tradisi dalam masyarakat Jawa seakan tak ada habisnya. Setiap daerah memiliki tradisi uniknya masing-masing. Tak terkecuali warga Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara itu. Prasah merupakan prosesi serah-terima lamaran kepada mempelai putri berupa Kerbau. Warga setempat menyebutnya tradisi Prasah, karena kata ini berasal dari bahasa Jawa pasrah.
“Prasah iku tembung diserahno, disahno, utowo dipasrahno, kerono ilate wong Jowo, ben penak unine dadi tembung prasah (prasah adalah kata diserahkan, disahkan, atau dipasrahkan, karena supaya mudah dilafalakan, katanya berubah menjadi prasah), tutur Mbah Badi (80) salah satu sesepuh Desa Sidigede, saat ditemui reporter  Paradigma, Sabtu (22/9) di rumahnya.
Mbah Badi menambahkan, pemberian kerbau tak langsung diberikan begitu saja, namun dalam prosesinya diarak orang banyak dari tempat mempelai pria menuju rumah mempelai putri. Namun, jika jarak rumah pengantin jauh, biasanya diangkut dengan kendaraan terlebih dahulu. Kemudian, ketika hampir sampai, kerbau diturunkan lalu diarak menuju rumah mempelai putri.
Tepat pukul 09.00 WIB, Kerbau Prasah sudah disiapkan dan diikat di sebatang kayu besar sebagai patok (penahan). Menjelang keberangkatan, kerbau digiring sekelompok orang yang memakai seragam khusus. Kelompok itu disebut Tukang Bracut. Tukang Bracut ini biasanya terdiri dari 30-40 orang. Orang-orang tersebut sudah biasa mengarak kerbau prasah di Sidigede. Proses membracut menggunakan tali dadung (tali tambang besar) yang diikatkan di kepala, leher dan kaki. Hal itu dilakukan agar mudah saat diarak.   
“Nek mung wong sitik seng bracut wonge ora kuat. Kebone iso ucul, masalahe kebone iku pilihan, lanang tur gede (jika hanya sedikit orang yang memegangi tidak akan kuat. Kerbaunya bisa lepas karena kerbau prasah ini besar dan jantan kualitas unggulan),” ungkap Busono (35) salah satu warga Sidigede.
Untuk mengarak kerbau juga harus dibracut, yaitu dengan menggunakan tali dadung (tali tambang besar) yang diikatkan di kepala, leher dan kaki. Hal itu dilakukan agar mudah saat diarak. Kemudian kerbau diarak lewat jalanan dari Desa Sidigede menuju Desa Teluk yang diikuti oleh warga setempat, sambil menyalakan petasan dan bersorak-sorak sampai rumah pihak wanita, sebelum akhirnya di-pasrah-kan.
Sebelum diarak, kerbau terlebih dahulu dibacakan do’a-do’a. Hal ini bertujuan agar acara berjalan lancar. Sebab, dalam pelaksanaan tradisi ini, kerbau bisa saja menjadi budhi. Budhi menurut warga Sidigede adalah beringas seperti kuda lumping yang kerasukan.
Tak hanya itu, dalam mengarak kerbau biasanya juga ada iringan barongan dari Desa Banyuputih. Kemudian yang paling belakang, baru mempelai putra sambil membawa lemari jati, jagoan (replika berbentuk ayam jago yang berkalung emas), peralatan rumah tangga dan beberapa panganan. Sesampainya di tempat mempelai putri, rombongan disambut dengan alunan musik tanjidor.
Dilansir dari laman pgmickudus.blogspot.co.id, Sarmuji menuturkan, filosofi tradisi ini  menggambarkan sosok pria yang menunjukan kejantananannya, setelah menaklukan kerbau beringas. Konon tradisi ini diilhami dari kisah Jaka Tingkir yang mampu menaklukan kerbau beringas, yang kemudian dapat menikahi putri kerajaan Demak. Hingga sekarang menjadi tradisi khas di Desa Sidigede.
Namun seiring berjalannya waktu dan mahalnya harga kerbau, tradisi ini tidak berlaku untuk semua warga. Hanya yang mampu saja khususnya keturunan Mbah Simin yang melakukannya. Mbah Simin sendiri konon terkenal sebagai petani kaya di Desa Sidigede.
Beberapa warga lain bukan keturunan Mbah Simin pun turut mengikuti tradisi ini, terutama mereka yang berkecukupan.  Bukan tanpa alasan. Ini dikarenakan harga kerbau sekarang mencapai 35 juta - 50 juta per ekor. Apalagi, kerbau yang digunakan Prasah dipilih dari jenis kerbau unggulan, badannya besar, jantan, dan berpunuk.
Tradisi Prasah terbukti menarik perhatian masyarakat. Tak hanya warga Sidigede, warga desa lain pun biasanya antusias melihat tradisi tersebut. “Tradisi Prasah adalah budaya kesenian yang harus selalu bisa dilestarikan,” kata Hakim (43), Kepala Desa Sidigede. “Biasanya, keluarga yang dari luar kota jika ada tradisi ini semuanya pulang untuk berkumpul, terutama dari keluarga keturunan Mbah Simin,” pungkasnya.
Ngajeni
Sunoto (60), seorang petani yang juga warga Sidigede mengatakan, Tradisi Prasah ini sebagai ungkapan rasa bersyukur karena anak yang dirawat dari kecil hingga dewasa telah diberi kesehatan, hingga sampai berumah tangga. Kemudian tujuan orang tua mencari nafkah itu diberikan kepada keluarga, khususnya anak. Akhirnya dari kedua belah pihak pun sudah merasa cocok kemudian diejawentahkan dengan Prasah.

Selain itu, Prasah juga menyimpan makna rasa saling peduli dengan sesama, “Ngajeni wong ben anakke sok diajeni wong,” imbuh Sunoto. Ini digambarkan dengan pemberian kerbau yang besar dan terbaik, merupakan cerminan dari menghargai orang lain dengan yang terbaik.

0 komentar:

Posting Komentar